Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menunjukkan pemulihan pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Harga saham bank pelat merah tersebut melonjak 9,84 persen ke level Rp 2.790 setelah mengalami tekanan jual besar dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.
Kenaikan itu terjadi di tengah wacana reformasi pasar modal oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusul evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Perubahan aturan terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dinilai berpotensi meningkatkan pengaruh saham perbankan besar terhadap pergerakan IHSG.
Saham BBRI Bangkit Setelah Terkoreksi Tajam
Sebelum mencatatkan penguatan, BBRI mengalami penurunan 14,84 persen pada 16 Oktober 2026, kemudian kembali melemah 3,79 persen pada 19 Oktober. Pemulihan pada perdagangan Selasa menjadi perhatian investor yang mencermati peluang di tengah volatilitas pasar.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 692,97 juta saham BBRI berpindah tangan dengan frekuensi 116.809 transaksi. Nilai perdagangan saham tersebut mencapai Rp 1,87 triliun.
Mengacu pada data Stockbit Sekuritas, BBRI juga membukukan net buy keseluruhan sebesar Rp 284,1 miliar. Arus pembelian tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan harga saham setelah terkoreksi dalam.
Dari sisi valuasi, BBRI diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) 1,31 kali. Angka tersebut berada di bawah ambang minus dua standar deviasi PBV historis selama 10 tahun terakhir, yakni 1,53 kali.
Sementara itu, price earning ratio (PER) berdasarkan kinerja 12 bulan terakhir tercatat 6,9 kali, lebih rendah dibandingkan ambang minus satu standar deviasi historis sebesar 9,66 kali.
Saham Bank BUMN Berpotensi Lebih Berpengaruh terhadap IHSG
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai rencana pengecualian saham HSC dari perhitungan IHSG dapat mengubah komposisi pengaruh saham dalam indeks. Saat ini, kelompok saham tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 18 persen.
Jika saham-saham tersebut dikeluarkan dari perhitungan, bobot relatif konstituen yang tersisa akan meningkat. Kondisi ini berpotensi membuat pergerakan IHSG semakin dipengaruhi saham bank besar, termasuk PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), BBRI, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Jason juga menyoroti potensi imbal hasil dividen ketiga bank tersebut setelah koreksi harga. Dividend yield BMRI diperkirakan 16,1 persen, BBRI 13,6 persen, dan BBNI 11,8 persen.
Ketiganya juga memiliki rekam jejak pembagian dividen selama 18 tahun berturut-turut. Meski demikian, Jason menyarankan investor melakukan akumulasi secara bertahap selama ketidakpastian pasar masih berlangsung.
Reformasi Pasar Modal Masih Dinantikan Investor
BEI turut menyiapkan peningkatan transparansi afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen. Langkah tersebut melengkapi upaya pembenahan keterbukaan kepemilikan, aturan batas harga minimum saham, dan free float.
Menurut Jason, reformasi tersebut menjadi langkah positif untuk memperkuat kredibilitas pasar Indonesia. Namun, pemulihan kepercayaan investor asing masih membutuhkan waktu, terutama selama ketidakpastian klasifikasi Indonesia dalam penilaian MSCI belum terselesaikan.









