Market

Harga Bitcoin Anjlok 1,76% ke US$ 76.723 pada 3 November, Ketidakpastian Pemilu AS Membayangi Pasar

Bitcoin turun 1,76% ke US$ 76.723 pada Selasa 3 November 2026. Ketidakpastian pemilu AS membayangi pasar, meski peluang rebound mulai terlihat.

Harga Bitcoin Anjlok 1,76% ke US$ 76.723 pada 3 November, Ketidakpastian Pemilu AS Membayangi Pasar
Foto: Dok. Pluang

Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. Ketidakpastian menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) membuat pelaku pasar berhati-hati, meskipun sejumlah indikator mulai menunjukkan kemungkinan meredanya tekanan jual.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.15 WIB, Bitcoin diperdagangkan pada US$ 76.723,9 per koin atau sekitar Rp 1,38 miliar dengan asumsi kurs Rp 18.116 per dolar AS. Penurunan tersebut mencapai 1,76% dibandingkan posisi sebelumnya.

Bitcoin Tertekan, Aset Kripto Utama Ikut Melemah

Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Kapitalisasi pasar kripto global menyusut 1,85% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,57 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar juga terkoreksi 1,88%.

Ethereum (ETH) turun 0,93% ke US$ 2.248, sedangkan Binance Coin (BNB) melemah 1,83% menjadi US$ 698. Pergerakan tersebut memperlihatkan tekanan yang meluas di pasar aset digital.

Mengutip CoinDesk, investor tengah mencermati potensi perubahan peta politik AS setelah pemilihan paruh waktu. Kemungkinan Partai Demokrat menguasai DPR dan Senat menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan, terutama terkait kelanjutan pembahasan regulasi industri kripto.

Posisi Short Besar Buka Peluang Short Squeeze

Di tengah koreksi harga, CEO Hyperion Decimus Chris Sullivan melihat sejumlah kondisi yang berpotensi mendukung pemulihan Bitcoin. Ia mencatat terdapat sekitar 29.220 posisi short setara Bitcoin di Chicago Mercantile Exchange (CME), dengan nilai mencapai US$ 2,2 miliar.

Selain itu, volume transaksi jual atau short-side taker volume tercatat sebesar US$ 21,99 miliar dalam periode 24 jam. Besarnya posisi yang bertaruh pada penurunan harga tersebut dapat membuka kemungkinan terjadinya short squeeze.

Kondisi ini muncul ketika harga justru bergerak naik sehingga trader yang mengambil posisi jual terpaksa membeli kembali aset untuk membatasi kerugian. Aktivitas pembelian tersebut berpotensi menambah dorongan kenaikan harga.

Sullivan juga menyoroti banyaknya Bitcoin yang keluar dari bursa kripto dan dialihkan ke cold storage. Menurutnya, penyimpanan mandiri dapat mengurangi jumlah aset yang tersedia untuk diperdagangkan.

“Begitu banyak BTC ditarik dari bursa dan dipindahkan ke penyimpanan dingin untuk disimpan secara mandiri. Ini sangat positif, tetapi dampaknya tidak langsung terasa,” kata Sullivan.

Hasil Pemilu AS dan Regulasi Kripto Jadi Perhatian

Sullivan menilai sejumlah indikator, termasuk Crypto Fear and Greed Index, mulai memperlihatkan pola yang menyerupai fase kelelahan penjual pada periode koreksi sebelumnya. Namun, pemulihan belum dapat dipastikan sebelum Bitcoin mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari apabila tekanan berlanjut.

Sementara itu, Chief Investment Officer Risk Dimensions Mark Connors mengingatkan agar investor tidak terlalu terpaku pada prediksi hasil pemilu. Menurutnya, perhatian berlebihan terhadap pasar prediksi seperti Polymarket dan Kalshi dapat mengalihkan fokus dari strategi investasi jangka panjang.

Connors juga menilai adopsi kripto masih berpeluang berkembang meskipun Partai Demokrat menguasai kedua kamar Kongres. Ia menyoroti investasi Intercontinental Exchange (ICE) dan Robinhood dalam layanan perdagangan sepanjang waktu, serta langkah perbankan mengembangkan sistem pembayaran berbasis stablecoin.

Dengan demikian, arah Bitcoin dalam beberapa waktu mendatang tidak hanya ditentukan oleh hasil pemilu, tetapi juga perkembangan regulasi, aktivitas perdagangan berjangka, dan permintaan terhadap aset digital.