— Nilai tukar rupiah kembali bergerak positif terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Rabu, 30 September 2026. Mata uang Garuda mencatat penguatan setelah sehari sebelumnya berakhir di zona merah.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah di pasar spot dibuka di level Rp17.921 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 60 poin atau sekitar 0,33 persen dibandingkan penutupan perdagangan Selasa, 29 September 2026 yang berada di Rp17.981 per dolar AS.

Rupiah Kembali Menguat pada Awal Perdagangan

Pergerakan rupiah pada awal sesi perdagangan menunjukkan adanya pemulihan setelah pelemahan tipis sehari sebelumnya. Pada Selasa, rupiah ditutup melemah 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.981 per dolar AS.

Dengan penguatan pada pembukaan Rabu, rupiah kembali bergerak mendekati level Rp17.900 per dolar AS. Data Bloomberg juga menunjukkan dolar AS berada di level 101,382 atau menguat tipis 0,01 persen pada perdagangan pagi.

Pergerakan kedua mata uang tersebut berlangsung ketika dolar AS masih mendapatkan dukungan dari sentimen ekonomi Amerika Serikat serta ekspektasi mengenai arah kebijakan suku bunga.

Dolar AS Masih Berada di Level Tinggi

Di pasar global, dolar AS masih mempertahankan posisinya pada level yang relatif tinggi terhadap sejumlah mata uang utama. Kondisi tersebut didukung sentimen mengenai pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan prospek suku bunga.

Mengutip MarketScreener, penguatan dolar AS juga terjadi ketika pasar Eropa menghadapi kekhawatiran terkait sektor energi dan kondisi utang. Perbedaan sentimen antara ekonomi AS dan Eropa turut memengaruhi pergerakan mata uang global.

Euro bahkan sempat menyentuh level terendah sejak Mei 2025, yakni US$1,1312 per dolar AS dalam perdagangan semalam. Setelah itu, euro bergerak di sekitar US$1,1339 per dolar AS pada perdagangan di pasar Asia.

Euro Tertekan hingga Level Terendah Sejak 2025

Sepanjang September 2026, dolar AS telah menguat hampir 2,5 persen terhadap euro. Kinerja tersebut menunjukkan tekanan yang masih dirasakan mata uang tunggal Eropa di tengah berbagai sentimen ekonomi dan fiskal.

Penguatan dolar juga berdampak terhadap sejumlah mata uang lainnya. Dolar Australia, misalnya, kembali bergerak di bawah level US$0,70. Posisi tersebut menjadi perhatian karena merupakan pertama kalinya sejak awal Agustus 2026 mata uang Australia berada di bawah batas tersebut.

Pada awal perdagangan Asia, dolar Australia berada di sekitar US$0,6986 per dolar AS.

Franc Swiss dan Poundsterling Ikut Tertekan

Pergerakan dolar AS juga terlihat terhadap franc Swiss. Mata uang Amerika Serikat sempat mencapai level tertinggi dalam 16,5 bulan terhadap franc Swiss, yakni 0,8358 franc dalam perdagangan semalam.

Sementara itu, dolar Selandia Baru bergerak relatif tertahan di kisaran US$0,5638 per dolar AS pada awal sesi Asia. Pergerakan tersebut berlangsung di tengah dominasi dolar AS di pasar valuta asing global.

Poundsterling Inggris juga masih menghadapi tekanan. Mata uang Inggris sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan pada Selasa dan terakhir diperdagangkan di sekitar US$1,3227 per dolar AS.

Pasar Valuta Asing Masih Dipengaruhi Sentimen Global

Pergerakan rupiah pada perdagangan 30 September 2026 berlangsung di tengah dinamika pasar valuta asing global yang masih kuat dipengaruhi dolar AS. Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan menjadi perkembangan terbaru setelah mata uang Garuda melemah tipis pada sesi sebelumnya.

Investor masih mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat, prospek suku bunga, serta kondisi ekonomi Eropa yang menjadi faktor penting bagi pergerakan mata uang utama dunia.

Dengan demikian, arah rupiah sepanjang perdagangan Rabu masih akan dipengaruhi oleh perkembangan sentimen eksternal dan perubahan posisi dolar AS di pasar global.