Topik.id — Industri asuransi umum Indonesia masih bertumpu pada tiga lini bisnis utama hingga Juli 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat harta benda, asuransi kredit, dan kendaraan bermotor menyumbang hampir 60% dari total premi industri, menunjukkan besarnya peran ketiga segmen tersebut dalam menopang bisnis perasuransian.
Data OJK memperlihatkan lini harta benda berada di posisi teratas dengan kontribusi 25,15%, disusul asuransi kredit sebesar 16,95% dan kendaraan bermotor 16,67%. Secara gabungan, ketiga lini tersebut menghasilkan porsi 58,77% dari total premi industri asuransi umum per Juli 2026.
Harta Benda Masih Menjadi Penopang Utama Premi
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan lini harta benda masih menjadi penyumbang premi terbesar. Hingga Juli 2026, premi dari lini usaha tersebut mencapai Rp18,54 triliun.
Menurut Ogi, prospek bisnis harta benda masih terbuka seiring berlanjutnya aktivitas ekonomi dan pembangunan. Namun, pertumbuhan premi perlu diikuti pengelolaan risiko yang lebih disiplin agar perusahaan asuransi tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis.
OJK mendorong perusahaan memperkuat proses risk assessment sebelum menerima pertanggungan. Penetapan harga atau pricing juga perlu disesuaikan dengan tingkat risiko yang melekat pada objek yang diasuransikan.
Langkah tersebut menjadi penting karena peningkatan aktivitas ekonomi dan pembangunan dapat memperluas kebutuhan perlindungan terhadap aset, properti, maupun proyek pembangunan.
Asuransi Kredit dan Kendaraan Ikut Menopang Industri
Asuransi kredit menempati posisi kedua dengan kontribusi 16,95% terhadap premi industri. Prospek lini ini berkaitan erat dengan perkembangan pembiayaan, sehingga pertumbuhan aktivitas kredit dapat membuka ruang bagi peningkatan permintaan perlindungan asuransi.
Sementara itu, kendaraan bermotor menyumbang 16,67% dari total premi. Segmen tersebut masih memiliki ruang pertumbuhan sejalan dengan mobilitas masyarakat yang terus berkembang.
OJK melihat ketiga lini utama itu memiliki sumber pertumbuhan yang berbeda. Harta benda berkaitan dengan aktivitas ekonomi dan pembangunan, asuransi kredit mengikuti perkembangan pembiayaan, sedangkan kendaraan bermotor ditopang kebutuhan perlindungan dalam aktivitas mobilitas.
Segmen Kumpulan Unggul di Produksi Baru
Dari sisi segmen nasabah, pola bisnis asuransi umum juga menunjukkan perbedaan antara produksi baru dan premi lanjutan.
Per Juli 2026, premi produksi baru dari segmen kumpulan mencapai Rp38,36 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan segmen perorangan yang mencatat Rp25,24 triliun.
Namun, posisi berbalik pada premi lanjutan. Segmen perorangan membukukan premi sebesar Rp29,70 triliun, sedangkan segmen kumpulan hanya mencapai Rp5,81 triliun.
Perbedaan tersebut menunjukkan karakteristik kebutuhan yang berbeda antara nasabah individu dan kumpulan. Karena itu, OJK menilai kedua segmen masih mempunyai prospek, dengan strategi pengembangan yang perlu disesuaikan terhadap karakteristik masing-masing pasar.
Dengan dominasi tiga lini utama yang mencapai 58,77%, arah pertumbuhan industri asuransi umum ke depan akan sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi, pembiayaan, serta mobilitas masyarakat.
