Saham

Saham PGAS Berpeluang Naik 45%, Analis Bidik Harga Rp2.000

Saham PGAS berpeluang menguat sekitar 45% menurut target analis. Simak prospek bisnis gas, proyeksi kinerja, dan risikonya.

Saham PGAS Berpeluang Naik 45%, Analis Bidik Harga Rp2.000
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) (Sumber: dok. PGN)

Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masih memiliki ruang kenaikan berdasarkan sejumlah proyeksi analis, meskipun pergerakan harganya berada dalam tekanan sepanjang beberapa bulan terakhir. Target harga di kisaran Rp1.900 hingga Rp2.020 per saham membuka peluang penguatan sekitar 40–50 persen dibandingkan posisi saham pada akhir Oktober 2026.

Pada perdagangan Senin (26/10/2026), saham PGAS tercatat di Rp1.320 pada pukul 15.30 WIB, turun 2,58 persen dari penutupan sebelumnya Rp1.355. Konsensus analis S&P Global yang dihimpun Stock Analysis sebelumnya memasang target rata-rata Rp2.001, atau potensi kenaikan 44,98 persen dari harga acuan Rp1.380 pada 1 Oktober 2026.

Persentase tersebut merupakan proyeksi berdasarkan harga acuan tertentu, bukan keuntungan investasi yang dijamin.

Target harga saham PGAS membuka peluang kenaikan

Analis Sucor Sekuritas Giovanus Marcell Lie memberikan rekomendasi beli untuk PGAS dengan target Rp2.020 dalam riset yang diberitakan 8 Oktober 2026. Analis Abdusshomad juga memberikan target Rp1.900. Sementara itu, konsensus S&P Global per 1 Oktober mencatat rata-rata Rp2.001, estimasi terendah Rp1.400 dan tertinggi Rp2.621.

Sumber analisisTarget harga PGASKeterangan
Sucor SekuritasRp2.020Rekomendasi beli
AbdusshomadRp1.900Rekomendasi beli
Konsensus S&P Global, 1 Oktober 2026Rp2.001Rata-rata target analis
UBS, 13 Juli 2026Rp1.960Rekomendasi beli
JPMorgan, 26 Juni 2026Rp2.150Rekomendasi beli

Jika dibandingkan dengan harga intraday Rp1.320 pada 26 Oktober, target Rp2.001 mencerminkan selisih sekitar 51,6 persen. Perbedaan dengan proyeksi 45 persen berasal dari perubahan harga acuan. Target analis dapat berubah mengikuti perkembangan perusahaan dan pasar.

Kinerja distribusi gas menjadi penopang prospek PGAS

Optimisme terhadap PGAS didukung ekspektasi pertumbuhan volume distribusi gas bumi. Dalam riset Sucor Sekuritas yang dikutip Kontan pada 8 Oktober 2026, Giovanus memperkirakan volume distribusi mencapai 878 BBTUD pada tahun fiskal 2026, tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan.

BBTUD merupakan satuan billion British thermal units per day untuk mengukur volume energi gas per hari. Proyeksi penurunan harga LNG menjadi US$13 per MMBTU dinilai dapat mendukung kebutuhan pasokan bagi konsumen industri di Jawa, Banten, dan DKI Jakarta.

Pertumbuhan penyaluran dapat mendukung pendapatan apabila perusahaan mampu menjaga margin perdagangan serta mengendalikan biaya pengadaan.

Proyeksi volume gas PGAS tumbuh 5 persen pada 2026

PGAS merupakan bagian dari Subholding Gas Pertamina yang menjalankan distribusi, perdagangan, dan transportasi gas bumi. Perusahaan juga memiliki kegiatan transmisi serta layanan pendukung melalui anak usaha.

IndikatorProyeksi analis
Volume distribusi gas 2026878 BBTUD
Pertumbuhan volume tahunan5%
Harga LNGUS$13 per MMBTU
Margin perdagangan campuranUS$1,4 per MMBTU
Posisi kas bersihSekitar US$0,9 miliar

Angka tersebut merupakan estimasi Sucor Sekuritas yang diberitakan pada 8 Oktober 2026, bukan seluruhnya realisasi kinerja perusahaan.

Posisi kas PGAS dinilai mampu meredam risiko sengketa Gunvor

PGAS menghadapi risiko keuangan terkait sengketa hukum Gunvor. Sucor Sekuritas memperkirakan posisi kas bersih perusahaan tetap sekitar US$0,9 miliar sehingga menyediakan ruang likuiditas untuk menghadapi potensi beban hukum.

Giovanus menilai sengketa tidak secara langsung mengubah volume distribusi gas berulang maupun tarif dan margin perdagangan operasional. Namun, hasil penyelesaian perkara dan kewajiban akhirnya tetap dapat berbeda dari asumsi analis.

Investor perlu mengikuti keterbukaan informasi perusahaan mengenai perkembangan sengketa dan dampaknya terhadap laporan keuangan.

Saham PGAS masih berada dalam tekanan teknikal

Meskipun prospek fundamental dinilai positif oleh sebagian analis, data Ajaib pada 26 Oktober 2026 pukul 15.30 WIB mencatat PGAS di Rp1.320, turun Rp35 atau 2,58 persen. Dalam enam bulan hingga tanggal tersebut, saham melemah sekitar 31,09 persen, dengan rentang harga 52 minggu Rp1.125–Rp2.520.

Dalam analisis 13 Oktober 2026, Ciptadana Sekuritas Asia memberikan rekomendasi speculative buy dengan harga acuan Rp1.420, target perdagangan Rp1.500, dan batas risiko Rp1.360. Riset itu menyatakan tren utama saat itu masih bearish.

Level teknikal pada 13 Oktober tidak otomatis dapat digunakan untuk transaksi pada harga 26 Oktober karena kondisi pasar telah berubah.

Konsensus analis masih memberikan rekomendasi beli PGAS

Data konsensus Investing.com menunjukkan 10 dari 14 analis merekomendasikan beli saham PGAS, sedangkan empat lainnya menyarankan tahan, tanpa rekomendasi jual. Target harga rata-rata 12 bulan tercatat sekitar Rp2.011.

Target UBS Rp1.960 dan JPMorgan Rp2.150 mencerminkan pandangan dari lembaga investasi internasional, tetapi masing-masing riset diterbitkan pada waktu berbeda. Rekomendasi analis tidak menjamin pergerakan saham akan searah dalam jangka pendek.

Peluang kenaikan PGAS hingga 45 persen bukan keuntungan pasti

Proyeksi potensi kenaikan sekitar 45 persen berasal dari target konsensus Rp2.001 dibandingkan harga acuan Rp1.380 pada 1 Oktober 2026. Persentase akan berubah mengikuti harga yang digunakan sebagai pembanding.

Penurunan harga saham dapat memperbesar persentase selisih terhadap target, tetapi tidak dengan sendirinya meningkatkan probabilitas target tersebut tercapai. Realisasi pertumbuhan volume gas, margin operasi, harga LNG, sengketa hukum, dan kondisi pasar menjadi faktor penting yang perlu dinilai.

Prospek saham PGAS bergantung pada pertumbuhan bisnis inti

Prospek PGAS pada sisa 2026 berkaitan dengan kemampuan perusahaan meningkatkan distribusi gas serta menjaga profitabilitas. Proyeksi pertumbuhan volume sebesar 5 persen dan posisi kas yang dinilai kuat menjadi dasar optimisme sejumlah analis.

Meski demikian, pelemahan saham beberapa bulan terakhir menunjukkan adanya tekanan pasar. Target harga Rp1.900 hingga Rp2.020 merupakan penilaian jangka menengah atau panjang, bukan prediksi harga yang pasti dalam waktu dekat.

Hingga perdagangan Senin (26/10/2026), PGAS masih memiliki potensi kenaikan menurut target analis, tetapi realisasinya bergantung pada kinerja operasional, perkembangan risiko hukum, dan kondisi pasar. Investor perlu memperhatikan laporan keuangan serta pembaruan target harga berikutnya.