Topik.id — Isu peredaran beras fortifikasi palsu di pasaran membuat masyarakat perlu memahami sebenarnya apa itu beras fortifikasi dan bagaimana produk tersebut dibuat.
Kementerian Pertanian membongkar peredaran 25 merek beras fortifikasi palsu yang ditemukan di pasaran. Dari 27 merek yang berada dalam pengawasan, sebanyak 90 persen disebut tidak memenuhi standar.
Beras fortifikasi sendiri bukan merupakan jenis beras khusus yang tumbuh berbeda dari beras pada umumnya. Produk ini pada dasarnya merupakan beras putih biasa yang diperkaya dengan vitamin dan mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro.
Apa Itu Beras Fortifikasi?
Beras fortifikasi adalah beras yang diperkaya dengan sejumlah vitamin dan mineral melalui proses pencampuran dengan butiran khusus yang disebut fortified rice kernel (FRK).
FRK mengandung campuran vitamin dan mineral, di antaranya vitamin B1, B3, B6, B12, asam folat, zat besi, dan zinc.
Butiran FRK kemudian dicampurkan dengan beras putih biasa. Dengan cara tersebut, masyarakat tetap dapat mengonsumsi beras sebagai makanan pokok seperti biasa, tetapi memperoleh tambahan zat gizi mikro.
Tingginya konsumsi beras di Indonesia menjadi salah satu alasan komoditas ini digunakan sebagai media penyaluran zat gizi mikro. Data UNICEF mencatat konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai sekitar 31 juta ton per tahun atau rata-rata 93 kilogram per orang per tahun.
Apa Fungsi Beras Fortifikasi?
Beras fortifikasi dibuat untuk membantu mengatasi kekurangan zat gizi mikro. Produk ini terutama diprioritaskan bagi kelompok yang rentan mengalami masalah gizi.
Kelompok tersebut antara lain keluarga miskin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak yang berisiko mengalami stunting.
Di Indonesia, beras fortifikasi turut diadopsi sebagai salah satu instrumen penanganan stunting, terutama melalui saluran beras bersubsidi.
Meski demikian, beras fortifikasi bukan pengganti lauk, sayur, atau buah. Fungsinya adalah membantu memenuhi kebutuhan nutrisi mikro sebagai bagian dari pola makan.
Apa Saja Kandungan Beras Fortifikasi?
Kandungan zat gizi pada beras fortifikasi berasal dari FRK yang dicampurkan ke dalam beras biasa.
Regulasi Indonesia mengharuskan penambahan minimal lima zat gizi, yakni:
| Kandungan | Keterangan |
|---|---|
| Vitamin B1 | Salah satu vitamin yang diwajibkan dalam fortifikasi |
| Vitamin B12 | Salah satu vitamin yang diwajibkan dalam fortifikasi |
| Asam folat | Salah satu zat gizi yang ditambahkan |
| Zat besi | Mineral yang digunakan dalam fortifikasi |
| Zinc | Mineral yang digunakan dalam fortifikasi |
Selain itu, FRK dapat mengandung vitamin B3 dan B6 sesuai formulasi yang digunakan.
Bagaimana Beras Fortifikasi Dibuat?
Pembuatan beras fortifikasi dimulai dengan membuat FRK. Tepung beras dicampur dengan premiks vitamin dan mineral, kemudian diproses menggunakan ekstruder.
Terdapat metode ekstrusi panas dan ekstrusi dingin.
Ekstrusi panas menggunakan suhu sekitar 80–110 derajat Celsius untuk menghasilkan bentuk yang menyerupai butiran beras. Sementara ekstrusi dingin menggunakan suhu sekitar 30–70 derajat Celsius dengan tampilan fisik yang sedikit lebih buram.
Setelah FRK terbentuk, butiran tersebut dicampurkan dengan beras biasa menggunakan rasio 1:100 atau 1:200.
Berdasarkan SNI 9372:2025, kadar kernel fortifikan minimal 1 persen dalam beras fortifikasi. Pencampuran juga wajib dilakukan menggunakan mesin secara batch atau kontinu agar FRK dapat tersebar secara merata.
Mengapa Beras Biasa Perlu Diperkaya?
Beras menjadi makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat dalam jumlah besar. Karena itu, beras dapat menjadi media yang efisien untuk menyalurkan tambahan zat gizi mikro tanpa mengubah kebiasaan makan masyarakat.
Gagasan memperkaya beras dengan zat gizi sebenarnya sudah berlangsung sejak era 1940-an di Filipina. Saat itu, teknologi tersebut digunakan untuk menanggulangi wabah beriberi yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B1 pada beras giling.
Studi Bataan pada 1948 kemudian membuktikan efektivitas beras yang diperkaya tiamin. Teknologi fortifikasi beras selanjutnya berkembang dan digunakan di berbagai negara.
Metode yang digunakan juga semakin berkembang, dari penaburan bubuk gizi hingga teknik coating atau pelapisan dan ekstrusi. Teknologi tersebut membuat vitamin dan mineral lebih kuat melekat sehingga tidak mudah larut ketika beras dicuci atau dimasak.
Bagaimana Cara Memasak Beras Fortifikasi?
Cara memasak beras fortifikasi pada dasarnya sama dengan beras biasa.
Namun, konsumen disarankan tidak mencuci beras secara berlebihan agar kandungan nutrisi tidak banyak terbuang. Hal tersebut juga bergantung pada teknologi pelapisan yang digunakan produsen.
Apakah Beras Fortifikasi Aman Dikonsumsi?
Beras fortifikasi yang dibuat sesuai standar dirancang dengan memperhatikan keamanan konsumsi. Formulasi dosisnya mengacu pada batas asupan atas (tolerable upper intake level).
Uji klinis WHO juga mengonfirmasi bahwa konsumsi beras berzat besi secara rutin dapat meningkatkan hemoglobin dan status gizi tanpa efek samping toksik.
Namun, jaminan tersebut berlaku pada produk yang memenuhi standar dan telah melalui pengujian yang diperlukan.
Karena itu, isu mengenai beras fortifikasi palsu menjadi penting bagi konsumen. Produk yang hanya mencantumkan klaim fortifikasi pada kemasan belum tentu memenuhi standar yang ditetapkan.
Bagaimana Cara Memilih Beras Fortifikasi?
Di tengah isu peredaran beras fortifikasi palsu, konsumen perlu lebih teliti sebelum membeli.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah label kandungan gizi, sertifikasi SNI, serta jalur distribusi produk.
Konsumen sebaiknya mengutamakan produk resmi dan terverifikasi agar kandungan vitamin serta mineral yang diklaim benar-benar sesuai dengan standar.
Kementerian Pertanian sendiri menemukan adanya beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar. Dari 27 merek yang berada dalam pengawasan, sebanyak 90 persen disebut tidak memenuhi standar.
Karena itu, memahami apa itu beras fortifikasi menjadi penting agar masyarakat tidak hanya melihat klaim pada kemasan, tetapi juga memastikan produk yang dibeli merupakan produk yang legal dan memenuhi regulasi.
Beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras biasa yang diperkaya zat gizi mikro. Produk ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, terutama bagi kelompok rentan, tetapi manfaat tersebut hanya dapat diperoleh secara optimal jika produk yang dikonsumsi benar-benar memenuhi standar.
