— Badan Pangan Nasional memastikan persediaan beras secara nasional berada dalam status aman menjelang periode Natal dan Tahun Baru. Kepastian ini ditopang oleh arus pasokan harian yang masuk ke Pasar Induk Beras Cipinang yang terpantau stabil di angka 1.500 ton setiap harinya.

Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono mengonfirmasi kondisi tersebut usai melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Menurutnya, meski ada potensi penurunan permintaan dari pasar akibat distribusi bantuan pangan, ketersediaan secara keseluruhan tetap terkendali.

“Dari pemantauan yang kami lakukan, pasokan beras masih berada di kisaran 1.500 ton per hari. Memang dimungkinkan terdapat sedikit penurunan permintaan di pasar, salah satunya seiring dengan penyaluran program bantuan pangan kepada masyarakat, namun stok secara keseluruhan tetap aman,” ujar Maino, Minggu (20/9/2026).

Maino menyampaikan bahwa upaya menjaga stabilitas ketersediaan pangan terus digenjot oleh pemerintah demi mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat di penghujung tahun, sehingga harga pangan tetap terjangkau.

Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah turut ditopang oleh progres pengadaan gabah dan beras domestik. Tercatat hingga 18 September 2026, total pengadaan nasional sudah menyentuh angka 3.958.605 ton, atau setara dengan 98,96 persen dari target awal sebesar 4 juta ton.

Di samping itu, instrumen Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan juga digencarkan. Penyaluran SPHP sejak bulan Maret lalu telah mencapai 809.865.665 kilogram atau menyentuh persentase 97,81 persen dari target.

Sementara itu, realisasi untuk program Bantuan Pangan Beras periode alokasi Juli hingga September 2026 per tanggal 18 September telah tersalurkan sebanyak 682.671.450 kilogram. Jumlah tersebut merepresentasikan 68,45 persen dari total pagu 997.332.240 kilogram bagi keluarga penerima manfaat di berbagai wilayah.

Direktur Pemasaran Perum Bulog, Rahmanto Amin Jatmiko, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengawal stabilitas harga dan pasokan beras di pasaran. Kolaborasi tersebut mencakup kerja sama dengan pengelola pasar hingga para pelaku usaha.

“Persoalan pangan, khususnya beras, harus kita selesaikan secara bersama-sama. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Karena itu, diperlukan sinergi antara Badan Pangan Nasional, pengelola pasar, pelaku usaha perberasan, serta seluruh pemangku kepentingan,” kata Rahmanto.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, menegaskan komitmen perusahaannya dalam mengawal keberlangsungan rantai pasok dari tingkat pedagang sampai ke tangan konsumen.

“Yang juga penting adalah bagaimana kita menjaga ekosistem perberasan tetap berjalan dengan baik. Pada akhirnya, tujuan kita adalah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, memastikan beras tersedia dengan kualitas yang baik, serta dapat diperoleh masyarakat dengan harga terjangkau,” ujar Dodot.