Saham

Direksi BRMS Borong 740.000 Saham pada Oktober 2026, Total Akumulasi Lima Direktur Hampir 7,5 Juta

Lima direksi BRMS telah mengakumulasi hampir 7,5 juta saham dalam 18 bulan. Aksi terbaru terjadi saat perusahaan menggenjot produksi emas.

Direksi BRMS Borong 740.000 Saham pada Oktober 2026, Total Akumulasi Lima Direktur Hampir 7,5 Juta
Foto: Bumi Resources Minerals

Aktivitas pembelian saham oleh jajaran direksi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berlanjut pada Oktober 2026. Dua petinggi perusahaan kembali menambah kepemilikan saham, dengan total pembelian mencapai 740.000 lembar dalam periode transaksi terbaru.

Kedua direktur tersebut adalah Muhammad Sulthon dan Charles Daniel Gobel. Aksi pembelian berlangsung ketika BRMS tengah mempersiapkan peningkatan produksi emas dari tambang Poboya di Palu, Sulawesi Tengah, melalui optimalisasi kegiatan penambangan serta pengembangan fasilitas pengolahan.

Dua Direktur Tambah Kepemilikan Saham BRMS

Berdasarkan keterangan manajemen yang disampaikan pada Selasa (20/10/2026), Muhammad Sulthon membeli 190.000 saham BRMS melalui transaksi pada 13 dan 15 Oktober 2026. Sementara itu, Charles Daniel Gobel menambah kepemilikannya sebanyak 550.000 saham pada 20 Oktober 2026.

Jika digabungkan, kedua transaksi tersebut menambah 740.000 saham ke dalam portofolio investasi dua anggota direksi. Langkah ini memperpanjang rangkaian akumulasi saham yang dilakukan oleh jajaran pimpinan perusahaan selama satu setengah tahun terakhir.

Dalam kurun waktu 18 bulan, lima direktur BRMS tercatat telah mengumpulkan hampir 7,5 juta saham perseroan. Selain Charles Daniel Gobel dan Muhammad Sulthon, nama lain yang tercatat melakukan akumulasi adalah Adrian Wicaksono, Adika Aryasthana Bakrie, serta Herwin Wahyu Hidayat.

Manajemen menilai pembelian saham oleh jajaran direksi tersebut mencerminkan keyakinan terhadap prospek kinerja perusahaan ke depan. Meski demikian, transaksi oleh pengurus perusahaan tidak dengan sendirinya menjamin pergerakan harga saham maupun realisasi target bisnis.

Tambang Poboya Disiapkan Untuk Tingkatkan Produksi Emas

Dari sisi operasional, BRMS telah merampungkan kegiatan pengupasan kembali area tambang atau pushback di tambang emas terbuka Poboya pada Juli 2026. Penyelesaian pekerjaan ini membuka akses bagi perusahaan untuk menambang bijih dengan kandungan emas lebih tinggi.

Pada semester II-2026, BRMS menargetkan penambangan bijih dengan kadar emas di atas 1,5 gram per ton (g/t). Manajemen memperkirakan peningkatan kadar bijih tersebut dapat mendukung kenaikan produksi emas pada paruh kedua tahun ini.

Selain mengoptimalkan tambang terbuka, perusahaan juga melanjutkan pengembangan tambang emas bawah tanah di Palu. Progres konstruksi proyek tersebut telah dipaparkan pada September 2026.

Kapasitas Pabrik Ditargetkan Naik Empat Kali Lipat

BRMS menargetkan penambangan bijih berkadar emas di atas 3,2 gram per ton dari tambang bawah tanah dapat dimulai pada pertengahan 2027. Proyek ini menjadi bagian dari rencana perusahaan untuk memperluas sumber produksi emas dalam jangka menengah.

Perseroan juga menyiapkan peningkatan kapasitas salah satu pabrik pengolahan emas, dari semula 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari. Dengan peningkatan tersebut, kemampuan pengolahan fasilitas itu akan bertambah empat kali lipat.

Pabrik yang diperbesar tersebut diharapkan mulai beroperasi pada awal 2027. Peningkatan kapasitas pengolahan, bersama pengembangan tambang bawah tanah dan optimalisasi Poboya, menjadi sejumlah langkah BRMS untuk mendorong produksi emas ke depan.