— PT Timah Tbk (TINS) diproyeksikan bakal membagikan dividen serta yield dalam jumlah besar untuk tahun buku 2026. Kondisi tersebut didorong oleh performa keuangan emiten tambang pelat merah ini yang menunjukkan tren positif.

Proyeksi tersebut terungkap dalam riset yang dirilis oleh CGS International menyusul agenda pertemuan bersama jajaran manajemen TINS. Berdasarkan data yang dihimpun, volume penjualan perseroan hingga periode September 2026 diperkirakan berada di kisaran 16 ribu sampai 17 ribu ton.

Angka penjualan tersebut mencakup sekitar 5 ribu hingga 6 ribu ton yang direalisasikan pada kuartal III-2026. Realisasi ini tercatat sedikit meningkat dibanding kuartal sebelumnya yang membukukan 5 ribu ton, namun lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I yang menyentuh angka 6 ribu ton.

Pencapaian penjualan tersebut turut dipengaruhi oleh volume produksi yang terbatas akibat kendala cuaca kering. Kondisi iklim tersebut dilaporkan berdampak pada aktivitas penambangan yang dilakukan di lepas pantai.

Kendati demikian, manajemen memasang target produksi total sepanjang tahun ini pada kisaran 24 ribu hingga 27 ribu ton. Jumlah tersebut sudah memperhitungkan tambahan pasokan sebesar 3 ribu ton yang bersumber dari wilayah Belitung.

Target Produksi 2027 dan Prospek Dividen

Memasuki tahun depan, manajemen TINS mengusung target produksi yang lebih tinggi, yakni mencapai 30 ribu ton. Angka ini dinilai sejalan dengan ketentuan kuota yang tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah mengalami penyesuaian.

Menanggapi perkembangan tersebut, CGS International tetap mempertahankan rekomendasi add untuk saham TINS. Keputusan ini didasari oleh tren harga komoditas timah yang masih kuat serta tingkat valuasi perseroan yang dinilai menarik.

Selain itu, TINS juga diperkirakan mampu menggelontorkan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio sebesar 70 persen dengan tingkat yield mencapai 10,7 persen.

Dalam riset yang sama, target harga saham TINS dipatok pada level Rp5.500. Angka valuasi ini mengacu pada proyeksi price to earnings ratio (PER) tahun 2027 serta memperhitungkan deviasi standar dari rerata historis lima tahun terakhir, dengan tetap mencermkum faktor kehati-hatian terhadap dinamika biaya bahan baku serta regulasi.