— Pergerakan harga sejumlah kebutuhan pangan kembali menjadi perhatian pemerintah seiring meningkatnya tekanan inflasi. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian meminta pemerintah daerah memperketat pemantauan terhadap komoditas yang memiliki pengaruh besar terhadap biaya konsumsi masyarakat.

Tiga komoditas yang menjadi perhatian utama adalah daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras. Meskipun inflasi nasional masih dinilai terkendali di level 3,19%, angka tersebut meningkat dibandingkan posisi sebelumnya sebesar 2,88%. Secara bulanan, inflasi dari Juli ke Agustus 2026 juga tercatat naik 0,21%.

Harga Pangan Bergerak Berbeda Antarwilayah

Tito mengatakan tekanan harga terutama perlu dicermati pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Selain itu, pergerakan harga pada sektor pendidikan serta perawatan pribadi juga turut menjadi perhatian dalam perkembangan inflasi.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga daging ayam segar secara nasional pada 16 September 2026 justru turun menjadi Rp41.650 per ekor dari Rp42.600 pada hari sebelumnya.

Namun, tren nasional tersebut tidak sepenuhnya tercermin di setiap daerah. Harga ayam di Aceh naik menjadi Rp47.000 per ekor dari Rp43.200. Di DKI Jakarta, harga juga meningkat menjadi Rp43.050 dari Rp42.900.

Telur Ayam Dan Beras Masih Perlu Dipantau

Pergerakan serupa terlihat pada komoditas telur ayam ras. Secara nasional, harga telur turun tipis menjadi Rp29.950 dari Rp30.000 per kilogram.

Di sejumlah wilayah, harga justru bergerak naik. DI Yogyakarta mencatat kenaikan harga telur menjadi Rp26.000 dari Rp25.650. Sementara itu, Kalimantan Timur mengalami peningkatan menjadi Rp31.700 dari sebelumnya Rp30.200.

Pada komoditas beras, harga medium I secara nasional turun tipis menjadi Rp16.550 per kilogram dari Rp16.600. Akan tetapi, Kalimantan Selatan mencatat kenaikan cukup besar menjadi Rp21.350 dari Rp19.900. Di Kalimantan Tengah, harga naik menjadi Rp20.000 dari Rp19.900.

Pemerintah Diminta Siapkan Intervensi Lebih Cepat

Untuk mengantisipasi tekanan harga, Tito mendorong Bulog bersama Badan Pangan Nasional melakukan langkah intervensi apabila diperlukan. Pemerintah juga diminta mempertemukan distributor dan produsen untuk mengidentifikasi faktor yang menyebabkan kenaikan harga di daerah tertentu.

Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir menilai pemantauan harus dilakukan sebelum harga melewati batas toleransi. Menurutnya, intervensi akan lebih efektif apabila pemerintah bertindak ketika kenaikan mulai terlihat, bukan setelah harga sudah melonjak tinggi.

Rantai Distribusi Jadi Perhatian

Tomsi meminta pemantauan harga ayam dilakukan sepanjang rantai pasok, mulai dari peternak, distributor hingga konsumen. Pendekatan tersebut diperlukan agar pemerintah dapat mengetahui sumber tekanan harga dan menentukan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Selain pangan, pemerintah juga mewaspadai kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan biaya transportasi, termasuk angkutan udara. Kementerian Perhubungan diminta mengantisipasi dampak kenaikan harga avtur terhadap tarif angkutan yang berada dalam pengaturan pemerintah.

Dengan pemantauan harga yang lebih cepat dan menyeluruh, pemerintah daerah diharapkan dapat mengidentifikasi potensi tekanan inflasi sebelum berdampak lebih luas terhadap daya beli masyarakat.