Market

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Selasa 3 November: Menguat ke Rp 18.152 per Dolar AS

Rupiah menguat 4 poin ke Rp 18.152 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa 3 November 2026, di tengah pelemahan indeks dolar.

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Selasa 3 November: Menguat ke Rp 18.152 per Dolar AS
Foto: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa, 3 November 2026, dengan pergerakan positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang domestik ini terjadi setelah rupiah mengakhiri perdagangan sehari sebelumnya di zona merah.

Mengacu pada data Bloomberg pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah naik 4 poin atau 0,02% ke posisi Rp 18.152 per dolar AS. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS justru bergerak menguat tipis 0,07% ke level 101.817.

Rupiah Berbalik Arah Setelah Melemah pada Senin

Pergerakan rupiah pada awal perdagangan Selasa menunjukkan perubahan dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya. Pada Senin (2/11/2026), rupiah kehilangan 9 poin atau 0,05% dan berakhir di level Rp 18.156 per dolar AS.

Dengan pembukaan di Rp 18.152, rupiah berhasil memangkas sebagian pelemahan tersebut. Meski demikian, penguatan sebesar 4 poin masih tergolong terbatas sehingga perkembangan pasar global tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.

Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak tidak stabil. Dikutip dari MarketScreener, pergerakan mata uang tersebut berlangsung di tengah penurunan harga minyak dan munculnya harapan mengenai kemungkinan kemajuan diplomasi antara Washington dan Teheran.

Indeks dolar AS sempat berada di level 101,76. Posisi tersebut muncul setelah indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama itu menyentuh titik terendah dalam satu bulan pada Senin.

Harga Minyak Anjlok, Perkembangan AS-Iran Jadi Perhatian

Pasar keuangan turut merespons perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Teheran mengenai komunikasi yang masih berlangsung dengan Washington untuk mengakhiri konflik meningkatkan harapan tercapainya penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Sentimen tersebut ikut memengaruhi perdagangan energi. Harga minyak mentah Brent berjangka tercatat merosot lebih dari 7% pada Senin. Penurunan harian itu menjadi yang paling tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Perubahan harga minyak menjadi perhatian karena berkaitan dengan prospek inflasi dan arah kebijakan ekonomi. Perkembangan diplomatik di Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset keuangan, termasuk mata uang.

Pergerakan Euro, Yen, dan Poundsterling

Di luar rupiah dan dolar AS, sejumlah mata uang utama juga menunjukkan pergerakan yang berbeda. Euro menguat tipis ke posisi US$ 1,1185 per dolar AS.

Yen Jepang relatif tidak berubah di level 157,915 per dolar AS. Aktivitas perdagangan mata uang Jepang berlangsung dalam kondisi libur lokal.

Sementara itu, dolar Australia bertahan di sekitar US$ 0,7002 dan dolar Selandia Baru berada di posisi US$ 0,5617. Kedua mata uang tersebut belum memperlihatkan perubahan berarti terhadap dolar AS.

Poundsterling Inggris mencatat penguatan 0,05% menjadi US$ 1,3414. Kenaikan ini berlangsung setelah data indeks manajer pembelian (PMI) menunjukkan sektor manufaktur Inggris memulai kuartal terakhir 2026 dengan pertumbuhan output terkuat dalam lebih dari dua tahun.

Beragam perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pasar valuta asing masih dipengaruhi kombinasi data ekonomi, harga komoditas, dan dinamika geopolitik. Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada respons pelaku pasar terhadap faktor-faktor tersebut.