— PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) menyiapkan empat aksi korporasi guna mendukung transformasi bisnis sekaligus rencana akuisisi 29,88% saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Seluruh agenda strategis tersebut bakal dimintakan persetujuan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 9 November 2026.

BRI Danareksa Sekuritas dalam catatannya pada Senin, 12 Oktober 2026, menjelaskan bahwa rangkaian aksi korporasi yang disiapkan DOOH mencakup pinjaman pemegang saham, pengalihan sisa dana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO), penambahan modal lewat hak memesan efek terlebih dahulu, serta restrukturisasi tata kelola perusahaan.

Rincian Empat Aksi Korporasi DOOH

Langkah pertama dari rangkaian korporasi ini adalah pinjaman pemegang saham (shareholder loan) dari pengendali baru, PT Sinergi Internasional Investama (SII). Fasilitas pinjaman ini memiliki plafon hingga Rp 5 triliun dengan tenor 10 tahun dan tingkat bunga 7,5% per tahun. Pencairan awal sebesar Rp 2 triliun dialokasikan khusus untuk mendanai proses akuisisi INET.

Agenda kedua melibatkan pengalihan sisa dana IPO milik perseroan senilai Rp 120 miliar. Dana tersebut akan dialokasikan sebagai setoran modal kepada entitas anak usaha, yaitu PT Cakrawala Nexus Investama (CNI).

Ketiga, perseroan berencana menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) I atau rights issue dengan menerbitkan maksimal 154,77 miliar saham baru disertai waran seri II. Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas, langkah ini berpotensi mendilusi kepemilikan saham pemegang saham eksisting hingga 95,24%.

Keempat, manajemen DOOH merencanakan restrukturisasi menyeluruh yang mencakup perubahan nama perusahaan, alamat, penyesuaian kegiatan usaha berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025, perombakan susunan pengurus, hingga peningkatan modal dasar.

Rencana Akuisisi dan Pandangan Analis

Seluruh rangkaian aksi korporasi tersebut terikat langsung dengan rencana CNI untuk mencaplok 6,685 miliar saham INET atau setara dengan porsi 29,88% dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN). Transaksi jumbo ini bernilai total Rp 2 triliun dengan patokan harga Rp 300 per saham.

BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa valuasi transaksi tersebut mencerminkan nilai ekuitas INET di kisaran Rp 6,7 triliun. Melalui kepemilikan saham 29,88%, DOOH tidak akan memegang kendali penuh atas INET. Apabila investasi ini dicatat menggunakan metode asosiasi, kontribusi laba bersih diprediksi hanya berada di angka sekitar Rp 20 miliar per tahun. Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan estimasi beban bunga pinjaman yang mencapai Rp 150 miliar per tahun.

Selain itu, rencana penerbitan saham baru yang mencapai 20 kali lipat dari jumlah saham beredar saat ini membuat para investor publik perlu memperhatikan pelaksanaan harga rights issue serta komitmen pemegang saham pengendali yang bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer).

BRI Danareksa Sekuritas turut mengingatkan pelaku pasar agar mencermati realisasi pencairan pinjaman dari SII, kepastian kontrak komersial antara DOOH dan INET, serta hasil keputusan resmi dalam RUPSLB yang dijadwalkan berlangsung pada 9 November 2026.