PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berpeluang mengubah fokus strategi belanja modal pada 2027, dari pengendalian investasi menjadi ekspansi bisnis. Seiring dengan rencana tersebut, muncul target harga saham TLKM yang dipatok pada level tinggi.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengungkapkan bahwa potensi pergeseran strategi ini dapat mendongkrak kebutuhan investasi perseroan, khususnya untuk memperkuat pengembangan pusat data atau data center serta jaringan kabel bawah laut.
Berdasarkan proyeksi, belanja modal konsolidasian TLKM pada 2027 berpotensi naik dari estimasi awal senilai Rp 29 triliun menjadi sekitar Rp 35 triliun.
“Pada 2026, TLKM masih berfokus mengendalikan intensitas belanja modal (capex intensity), yakni rasio investasi terhadap pendapatan. Namun, pada 2027, prioritas tersebut berpotensi bergeser ke peningkatan investasi untuk ekspansi,” tulis Kafi dalam risetnya, Kamis (22/10/2026).
Salah satu pemicu utama kenaikan belanja modal tersebut adalah pengembangan bisnis kabel bawah laut melalui Telin. Anak usaha Telkom ini merencanakan penanaman modal hingga Rp 32 triliun sampai 2031, atau rata-rata sekitar Rp 6,4 triliun per tahun.
Di sisi lain, NeutraDC Batam mengerek rencana kapasitas data center miliknya dari 54 megawatt (MW) menjadi 118 MW demi mengakomodasi kebutuhan bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Fasilitas BTM-1 berkapasitas 18 MW dilaporkan telah mengantongi kontrak penuh dari pelanggan, di mana 6 MW pertama dijadwalkan beroperasi pada kuartal IV-2026. Sementara itu, fasilitas BTM-2 yang memiliki kapasitas 100 MW ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Kendati demikian, kewajiban penyediaan fasilitas desalinasi serta pembangkit listrik diperkirakan bakal mendongkrak biaya investasi BTM-2 sebesar US$ 1,1 juta per MW, atau setara dengan 14% dari panduan awal.
Untuk segmen kabel bawah laut, Kafi mencatat bahwa lebih dari 85% kapasitas jaringan Telin sudah terserap pembeli. Bahkan, kapasitas jaringan kabel Bifrost diproyeksikan ludes terjual pada kuartal I-2027. Melalui transformasi bisnis konektivitas ini, Telin mematok target nilai perusahaan (enterprise value/EV) menyentuh angka Rp 40–45 triliun pada 2030.
Rekomendasi dan Target Harga Saham TLKM
BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan target harga mencapai Rp 3.500. Angka tersebut mencerminkan potensi kenaikan harga saham hingga 62%.
Perlu dicatat pula bahwa perkiraan belanja modal TLKM senilai Rp 35 triliun pada 2027 tersebut belum memperhitungkan kebutuhan dana untuk proyek BTM-2 yang diperkirakan memakan anggaran sekitar Rp 13–17 triliun.
Eksekusi investasi tersebut nantinya masih bertumpu pada rencana divestasi NeutraDC. Walau demikian, manajemen Telkom telah menjajaki opsi pendanaan lewat jalur pinjaman yang turut ditopang oleh rasio net debt/EBITDA di level 0,6 kali.
BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa peningkatan alokasi investasi ini berisiko menekan arus kas bebas (free cash flow/FCF) dalam rentang waktu jangka pendek. Kendati demikian, penanaman modal pada aset data center serta kabel bawah laut yang memiliki potensi valuasi lebih tinggi diyakini mampu memperjelas arah pertumbuhan jangka panjang TLKM.
Di sisi lain, analis juga mengingatkan bahwa risiko utama yang patut diwaspadai adalah potensi kurang memadainya investasi pada pengembangan teknologi jaringan seluler generasi kelima atau 5G milik Telkom.









